<!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Arial; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual; mso-fareast-language:EN-US;} </style> <![endif]--> <!--StartFragment--> <p style="text-align:justify"></p><span style="font-family:Georgia, serif"><span style="font-size:11pt"><p style="text-align:justify"></p><span style="font-family:system-ui, sans-serif"><p style="text-align:justify">Bahasa hadis tidak selalu dapat dipahami hanya dengan mengetahui arti kata-kata yang membentuknya. Jarak waktu antara penutur dan pembaca, perubahan pemakaian kosakata, keragaman dialek Arab, serta kekhasan konstruksi tertentu dapat menyebabkan kata yang semula dipahami oleh masyarakat Arab pada masa awal Islam menjadi asing bagi pembaca pada masa berikutnya. Persoalan semacam ini melahirkan perhatian khusus terhadap <i>gharīb al-ḥadīth</i>, yaitu kata atau ungkapan dalam hadis yang maknanya tidak segera dikenali sehingga memerlukan penjelasan kebahasaan. Keasingan tersebut bersifat relatif. Sebuah kata dapat dikenal dalam suatu kabilah, lingkungan, atau masa tertentu, tetapi tidak lagi mudah dipahami oleh penutur Arab pada masa yang berbeda. Karena itu, penjelasan <i>gharīb</i> tidak dapat dilepaskan dari keragaman <i>lughāt al-ʿArab</i> <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="391" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Abū ʿubayd, 1964</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="401" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ismāʿīl, 2018</span>)</span> .</p> <p style="text-align:justify">Karena menyangkut pemahaman sabda Nabi, penjelasan terhadap kata asing tidak cukup dilakukan dengan mencari padanan arti yang dianggap paling dekat. Sebuah lafaz harus ditempatkan kembali dalam sistem bahasa tempat lafaz itu digunakan. Para pemerhati kajian <i>gharīb al-ḥadīth</i> telah berupaya menyusun formulasi interpretasi melalui pemakaian bahasa Arab, bentuk kata, konstruksi kalimat. Selain itu, mereka menawarkan pemaknaan intertekstual dengan pembacaan literatur yang memuat syair, dialek, ayat Al-Qur'an, hadis lain. Kemudian dimatangkan dengan penelahan konteks tuturan untuk menentukan makna yang sesuai. Pola tersebut sudah tampak dalam <i>Gharīb al-ḥadīth</i> karya Abū ʿUbayd dan Ibn Qutaybah, kemudian berkembang dalam karya al-Khaṭṭābī, al-Harawī, al-Zamakhsharī, hingga yang berbentuk ensiklopedis seperti <i>Al-Nihāyah fī gharīb al-ḥadīth wa-al-athar</i> karya Ibn al-Athīr <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="391" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Abū ʿubayd, 1964</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="400" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ibn Qutaybah, 1977</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="395" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Al-khaṭṭābī, 1982</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="394" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Al-harawī, 1999</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="397" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Al-zamakhsharī, 1945</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="399" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ibn Al-athīr, 1979</span>)</span>.</p> <p style="text-align:justify">Perkembangan karya-karya tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan kebutuhan pembaca. Abū ʿUbayd menyusun penjelasannya ketika tradisi kebahasaan Arab masih relatif dekat dengan sumber-sumber lisan yang menjadi rujukan. Ibn Qutaybah meneruskan tradisi itu dengan memberikan perhatian pada sejumlah lafaz yang belum memperoleh penjelasan memadai. Al-Khaṭṭābī juga menempatkan karyanya dalam kesinambungan usaha para pendahulunya untuk menjelaskan bagian hadis yang masih membutuhkan keterangan <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="396" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Al-ṭāhir, 2010</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="392" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Afraḥ, 2011</span>)</span>. Al-Harawī kemudian mempertemukan kosakata asing Al-Qur'an dan hadis dalam <i>Al-Gharībayn</i>, sedangkan al-Zamakhsharī mengelaborasi pola analisis bahasa dalam <i>Al-Fāʾiq</i>. Ibn al-Athīr menghimpun warisan panjang itu dalam <i>Al-Nihāyah</i> dengan susunan yang memudahkan penelusuran berdasarkan akar kata. Dari tinjauan kronologis tersebut dapat dipahami, bahwa kitab-kitab <i>gharīb</i> bukan sekadar kamus hadis, tetapi rekaman mengenai cara ulama membaca bahasa hadis.</p> <p style="text-align:justify">Cara kerja tersebut dapat dimulai dari bentuk yang paling elementer, yaitu memastikan lafaz yang sedang dibaca. Ketepatan <i>ḍabṭ</i> menentukan kemungkinan makna karena perubahan vokal atau struktur morfologis dapat mengubah fungsi sebuah kata. Setelah bentuknya dipastikan, lafaz ditelusuri kepada akar dan derivasinya. <i>Ishtiqāq</i> membantu menemukan hubungan semantis antara suatu lafaz dengan keluarga katanya, sedangkan <i>ṣarf</i> menjelaskan bagaimana pola pembentukan kata memberi tambahan makna. Pada tahap ini, arti belum boleh langsung dianggap selesai. Sebuah kata yang secara morfologis telah dikenali masih harus diperiksa penggunaannya dalam kalimat dan dalam tradisi bahasa Arab. Kajian terhadap Ibn Qutaybah, misalnya, memperlihatkan pentingnya struktur morfologis dalam mengarahkan makna, sementara data Abū ʿUbayd menunjukkan bahwa variasi dialek juga dapat menjelaskan bentuk yang tampak tidak lazim bagi pembaca dari lingkungan bahasa yang berbeda <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="393" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">ʿAjīl, 2019</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="401" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ismāʿīl, 2018</span>)</span>.</p> <p style="text-align:justify">Persoalan menjadi lebih kompleks ketika satu bentuk memungkinkan lebih dari satu analisis gramatikal. Pada tahap ini, <i>naḥw</i> dan <i>iʿrāb</i> ikut menentukan makna. Kajian Khaymar <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="402" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Atrue%7D">2020</span>) bahkan memberi contoh pengkajiannya oleh</span>  al-Zamakhsharī yang menggunakan pertimbangan makna untuk memilih, menerima, atau menolak kemungkinan analisis gramatikal. Hubungan itu bekerja dua arah. Struktur sintaksis membatasi kemungkinan makna, tetapi makna yang dituntut oleh tuturan juga dapat menjadi alasan untuk memilih salah satu wajah gramatikal. Karena itu, makna hadis tidak berhenti pada hasil pencarian kata dalam kamus. Terdapat hubungan antara makna leksikal, struktur gramatikal, dan situasi penggunaan bahasa.</p> <p style="text-align:justify">Perbedaan antara makna leksikal dan makna kontekstual juga menjadi penting pada tahap berikutnya. Makna leksikal menyediakan wilayah semantis dasar sebuah kata, tetapi konteks menentukan bagian mana dari wilayah itu yang bekerja dalam sebuah tuturan. Al-Zamakhsharī memberi banyak contoh tentang pentingnya hubungan antara struktur bahasa dan keadaan yang melingkupi ujaran. Bilālī <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="398" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Atrue%7D">2023</span>) </span>menemukan bahwa penjelasan dalam <i>Al-Fāʾiq</i> memanfaatkan baik konteks linguistik maupun konteks situasional. Artinya, kata tidak diperlakukan sebagai satuan yang berdiri sendiri. Hubungannya dengan kata sebelum dan sesudahnya, siapa yang berbicara, kepada siapa tuturan diarahkan, dan keadaan yang melatarinya dapat menentukan arah pemaknaan.</p> <p style="text-align:justify">Dari cara kerja kitab-kitab <i>gharīb</i> tersebut dapat dikenali sejumlah perangkat kebahasaan yang saling berhubungan. <i>Ḍabṭ al-lafẓ</i> memastikan bentuk bacaan; <i>ishtiqāq</i> menelusuri hubungan kata dengan akar dan turunannya; <i>ṣarf</i> membaca pola pembentukan kata; <i>naḥw</i> dan <i>iʿrāb</i> menentukan relasi antarkomponen kalimat; pengetahuan leksikal menyediakan cakupan makna dasar; <i>lughāt al-ʿArab</i> menjelaskan variasi pemakaian antarkabilah; syair dan tuturan Arab menjadi <i>shawāhid</i> atas penggunaan suatu lafaz; <i>balāghah</i> menjelaskan makna yang lahir melalui majas, perbandingan, penekanan, atau susunan retoris; sedangkan <i>siyāq</i> menguji kesesuaian seluruh kemungkinan tersebut dengan tuturan yang sedang dijelaskan. Abū ʿUbayd sendiri menyimpan data fonologis, morfologis, sintaktis, semantis, leksikografis, dan dialektal yang cukup luas, sehingga <i>gharīb al-ḥadīth</i> sejak fase awal sebenarnya telah mempertemukan berbagai cabang pengetahuan bahasa <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="401" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ismāʿīl, 2018</span>)</span>.</p> <p style="text-align:justify">Cara kerja itu terlihat pada lafaz <b>الْهَرْج</b> dalam hadis tentang tanda-tanda mendekatnya hari kiamat. Secara leksikal, lafaz tersebut mempunyai wilayah penggunaan yang tidak serta-merta menunjuk kepada satu pengertian bagi setiap pembaca. Persoalannya diselesaikan oleh penjelasan yang terdapat dalam hadis sendiri ketika <i>al-harj</i> diterangkan sebagai <b>الْقَتْل</b>, pembunuhan. Dalam kasus ini, riwayat hadis berfungsi sebagai penafsir bagi kosakatanya sendiri. Penelusuran makna tidak perlu berhenti pada arti yang ditawarkan kamus apabila terdapat penjelasan internal yang lebih tegas. Prinsip ini penting karena sumber terdekat bagi pemaknaan suatu lafaz hadis dapat berupa hadis yang sama atau riwayat lain yang menjelaskan penggunaannya <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="391" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Abū ʿubayd, 1964</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="399" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ibn Al-athīr, 1979</span>)</span>.</p> <p style="text-align:justify">Kasus berbeda terdapat pada lafaz <b>الْقَزَع</b> dalam larangan Nabi terhadap <i>al-qazaʿ</i>. Lafaz itu sulit dipahami hanya dengan menerjemahkannya sebagai nama suatu tindakan. Riwayat menjelaskannya melalui bentuk konkret, yaitu mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain. Di sini, penjelasan makna bergerak dari istilah menuju deskripsi referennya. Keterangan tersebut kemudian dapat diuji melalui akar kata dan penggunaan Arab sehingga diketahui hubungan antara penamaan dan gambaran sesuatu yang terpisah-pisah. Makna menjadi terang bukan karena satu padanan terjemahan, tetapi karena keterangan hadis, analisis leksikal, dan pemakaian bahasa bertemu pada referen yang sama <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="399" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ibn Al-athīr, 1979</span>)</span>.</p> <p style="text-align:justify">Lapisan yang lebih rumit muncul ketika keasingan terletak pada ungkapan, bukan pada satu kata. Sabda Nabi <b>الْحَمْوُ الْمَوْتُ</b> tidak memadai apabila dipahami dengan menggabungkan arti leksikal <i>al-ḥamw</i> dan <i>al-mawt</i>. <i>Al-ḥamw</i> menunjuk kerabat laki-laki dari pihak suami dalam konteks pembicaraan mengenai masuknya laki-laki kepada perempuan yang bukan mahramnya. Kata <i>al-mawt</i> dalam susunan tersebut juga tidak sedang memberikan informasi bahwa kerabat suami adalah “kematian” secara harfiah. Konstruksi itu bekerja secara retoris untuk menegaskan besarnya bahaya kelonggaran yang sering muncul justru karena hubungan kekerabatan membuat kewaspadaan berkurang. Penjelasannya diawali makna leksikal, konteks hadis, relasi sosial yang menjadi latar tuturan, dan perangkat balagah sekaligus. Pembacaan terhadap aspek retoris dalam literatur <i>gharīb</i> menguatkan bahwa penjelasan bahasa hadis memang dapat melampaui arti kamus menuju cara sebuah ungkapan menghasilkan makna dalam situasi komunikasinya <span class="ihi-citation-cluster">(<span class="ihi-citation" data-ref-id="397" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Al-zamakhsharī, 1945</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="399" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Ibn Al-athīr, 1979</span>; <span class="ihi-citation" data-ref-id="403" data-citation="%7B%22locatorType%22%3A%22page%22%2C%22locator%22%3A%22%22%2C%22prefix%22%3A%22%22%2C%22suffix%22%3A%22%22%2C%22suppressAuthor%22%3Afalse%7D">Khunaysh, 2020</span>)</span>.</p><div style="text-align:justify">Ketiga contoh tersebut memperlihatkan bahwa dalam memahami lafaz <i>gharīb bisa</i> melalui penjelasan internal riwayat. Akan tetapi, ada juga yang memerlukan identifikasi referen dan penelusuran leksikal, dan ada pula ungkapan yang baru dapat dipahami setelah makna kata, konstruksi kalimat, konteks, dan fungsi retoris dibaca bersama. Karena itu, penjelasan kata dan ungkapan asing dalam hadis seharusnya diinterpretasi secara bertahap dari kepastian bentuk lafaz menuju akar dan pola katanya, struktur kalimat, pemakaian bahasa Arab, bukti tekstual, dan konteks tuturan. Kamus menjadi salah satu perangkat dalam proses tersebut, bukan hakim tunggal atas makna. </div></span><div style="text-align:justify"></div></span></span><div style="text-align:justify"></div><!--EndFragment-->